Mark Zuckerberg pemuda pendiri Facebook

Posted in Literatur with tags , on November 9, 2009 by esthi

01Saat ini hampir setiap hari saya mengakses situs jejaring sosial Facebook. Saat menunggu berita dari redaktur atau reporter, saya mengecek berbagai email masuk di account yahoo, lalu  membuka login facebook dan masuk ke halaman utama. Di sana nampak berbagai status terbaru dari teman-teman, dari masalah pribadi, keluarga, hingga masalah politik dan hukum.

markSaya pikir alangkah menariknya situs ini. Situs yang didirikan oleh seorang anak umur 25 tahun (kelahiran 1984) warga negara US, mempengaruhi begitu banyak orang di seluruh dunia. Berbagai manfaat yang bisa didapat seperti menemukan teman-teman lama yang telah hilang, menemukan berbagai komunitas, aplikasi fitur-fitur game atau sekedar narcis-narcisan sendiri saja. Fasilitas yang adapun dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang cukup serius seperti menggalang kegiatan yang berbau politik.

02Lihat saja salah satu status yang mendukung “gerakan 1 jt facebookers Dukung Chandra dan Bibit” dalam kasus KPK vs Polri yang heboh belakangan ini. Read more »

Keroncong masih bergema

Posted in Literatur with tags , , , , , on December 1, 2008 by esthi

dscn1229

Iringan musik Ukulele, gitar, bas, biola dan tamborin menggema di sebelah Gereja tua. Penyanyinya seorang gadis kecil jelita berparas indo menyanyikan lagu Portugis yang sederhana, mengenakan kebaya putih yang dipadukan dengan celana dan sepatu ala Portugis. Ya, itu adalah Kelompok Kerontjong Toegoe Junior generasi penerus Kelompok Kerontjong Toegoe seniornya. Sebuah generasi yang meneruskan kebudayaan dari sejarah musik Keroncong yang kita dengar saat ini.

dscn1234

Agak jauh juga lokasi yang kami tempuh, sebelah Utara Jakarta, Plumpang Cilincing. Lokasi yang telah menjadi jajahan industri dipadati oleh truk dan kontainer di sepanjang jalan raya cilincing. Motor yang kami pakai harus berhimpitan dengan kendaraan-kendaraan raksasa itu. Dengan udara yang masih kental air laut kami sampai di Gereja Tugu, gereja tua yang didirikan di tahun 1600-an. Rasa lelah terbayar seketika setelah kami bertemu dengan bangunan bersejarah itu. Di lokasi inilah sejarah musik keroncong bermula, saat musik Moresco didendangkan oleh para opsir Portugis dari Read more »

Kids in kampoeng

Posted in Literatur with tags , , , on November 17, 2008 by esthi

Masa kanak-kanak selalu menyimpan berbagai cerita indah. Momen lucu, lincah, dan serba ingin tahu menjadi sesuatu yang menarik untuk dikenang. Kampung halaman adalah tempat yang favorit bagi saya dan kemenakan-kemenakan saya untuk berlibur, dan saat Lebaran kemarin kami menghabiskan waktu bersama di sana.

dscn3374Anak-anak memang menyimpan daya tarik tersendiri. Sifatnya yang polos, energinya yang meluap , hingga kenakalan-kenakalan kecil yang menggelitik. Hal itulah yang membuat keinginan saya timbul untuk mendokumentasikan tingkah laku mereka. Saat bangun pagi beberapa dari mereka hanya duduk-duduk menonton tv, kemudian salah satu dari mereka bersembunyi di kasur yang disenderkan ke dinding. Adi kemudian memilih-milih CD kartun yang disediakan oleh ibu mereka. Cd-cd itu berupa cerita-cerita tentang kisah para nabi yang dibuat versi kartun. Kadang mereka menonton film yang sama berulang-ulang dalam beberapa hari berturut-turut. Atau saat film baru saja dimulai mereka bersama-sama menyanyikan lagu sountract film tersebut. Arya mengikuti kakaknya yang bersembunyi di balik kasur. Ha, tentu saja tidak saya tidak sia-siakan merekam mimiknya yang lucu dari balik kasur itu. Read more »

Go’es ontel di Jokja

Posted in wisata with tags , , , on October 11, 2008 by esthi

Berwisata ke kota bersejarah memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi bila kita menelusurinya dengan sepeda tua, antik dan tak kalah bersejarahnya yaitu ontel. Sepeda yang mulai dikenalkan oleh orang-orang Belanda di tahun 1800-an ke Indonesia ini kami bawa menelusuri ke beberapa tempat wisata dan bersejarah di Jokja.

Pukul sepuluh  kami menuju jalan Sosrowijayan, terletak di samping jalan Malioboro untuk menyewa sepeda. Tak seberapa jauh tampak oleh kami sebuah tulisan “Bicycle rent” dan jajaran sepeda ontel di pinggir jalan. Kami bertanya pada sang penyewa “duapuluh ribu rupiah per hari” jawabnya. Dengan meninggalkan KTP dan membayar uang sewa dimuka, sepeda kemudian disiapkan. Kami memilih sepeda yang berjenis laki-laki dan memiliki boncengan di belakang. Setelah ban diisi angin kami mencoba, agak sulit awalnya karena posisi sadel yang lebih tinggi dan pegangan stang yang masih belum stabil.

Read more »

My Homey Adenium

Posted in Tanaman with tags , , , , , , on September 12, 2008 by esthi

Sambil menghisap sebatang rokok putih ia mengamati pot demi pot hasil sambungan atau grafting yang dikerjakan beberapa hari yang lalu. “Agak sulit memang kalau musim hujan begini, batang-batangnya malah jadi banyak yang busuk” katanya sambil mengamati sambungan pohon yang lain. “Awalnya hanya ikut-ikut saja kebetulan orangtua saya hobi tanaman hias. Saya juga sering mengantarkan mereka melihat-lihat pameran tanaman. Setelah itu, justru saya yang keranjingan hobi tanaman adenium” ungkap lelaki yang sudah 5 tahun menekuni hobinya itu. Karakter yang unik dan bunganyalah hal yang membuatnya tertarik menekuni hobi ini. Kami mengamati berbagai koleksi yang ditunjukan di balkon atas, beberapa diantaranya diletakan begitu saja diatas genteng, karena tanaman ini memang membutuhkan cahaya matahari yang banyak. “Biasanya kalau ditaruh di halaman bawah justru jarang berbunga” tambahnya.

Adenium atau beberapa orang menyebutnya Kamboja Jepang memang ditemukan di daerah Afrika dan Asia Barat. Bahkan nama Adenium sendiri diambil dari nama daerah Aden ibukota negara Yaman sebuah negara di Jazirah Arab di Asia Barat Daya bagian dari Timur Tengah. Akan tetapi menurut beberapa sumber adenium berasal dari tanaman tropis, dimana pada zaman dahulu dunia tropis berangsur-angsur menjadi gurun. Jenis tanaman ini yang tidak tahan akan mati, dan yang bertahan menjadi Adenium seperti sekarang ini. Read more »

Goa dan kelelawar

Posted in Alam with tags , , , on September 12, 2008 by esthi

Beberapa waktu lalu saya bersama rekan-rekan kerja bereksplorasi ke gua yang berada di daerah Buniayu. Menelusuri sepanjang lorong yang gelap dan eksotis. Keindahan ornamen gua membuat kami terpana menikmati seni instalasi yang langsung dibuat oleh alam. Bukan hanya untuk mencari kegiatan yang memicu andrenalin, tapi juga curiousity yang mengalahkan rasa takut kami.

Seni alam yang natural itu kami nikmati bersama-sama. Tak hanya stalakmit dan stalaktit, kami juga melihat Curtzin dan babygourdam atau Rimstone yang berkilau. Namun salah satu yang sangat menarik perhatian saya adalah kelelawar yang tinggal di bagian dark zone gua.

Saat kami menelusuri gua dengan susah payah di aliran sungai gua, masuklah kami ke bagian dark zone gua. Ruangan yang memiliki ukuran cukup besar. Di sanalah Kami mendapatkan pemandangan yang menakjubkan. Ratusan kelelawar yang menggantung di langit dan dinding gua dengan ukuran tak sebesar kelelawar yang hidup di luar gua.

Kelelawar itu berterbangan, tak tahu apakah mereka menyambut atau merasa terganggu dengan kedatangan kami. Kami mengamatinya dengan berhati-hati . Dalam habitat yang tak satu titik cahaya pun menyinarinya itu, kami malah beramai-ramai me-nyenter-inya untuk mencari ujung dari kerumunan kelelawar itu.

Bukan hanya karena banyak dan berkerumun tapi kami juga kagum dengan kemampuannya. Tidak seperti kami yang buta bila berjalan tanpa senter di dalam gua, mereka bahkan dapat terbang, menemukan jalan atau bermanuver tanpa bantuan sinar sedikitpun. Seekor mahluk yang mempunyai kemampuan mengindra yang luar biasa. Ya, cara terbang mereka adalah dengan mengeluarkan suara frekuensi tinggi yang tidak bisa didengar oleh kami manusia. Dan pantulan suara atau gema tersebutlah yang digunakann mereka sebagai peta atau senter bagi kami. Mereka memancarkan duapuluh ribu gelombang perdetik dan menelaah pantulannya. Berdasarkan penelitian, sistem pemetaan sasaran sang kelelawar adalah jutaan kali lebih tepat dibanding sonar atau radar. Padahal Sonar dan radar adalah teknologi yang cukup bagi manusia. Sebuah kemampuan yang luar biasa bukan? Dalam menelaah pantulan mereka dikaruniai dua jenis sel syaraf dalam otaknya. Yang pertama Sel penginderaan suara ultrasonik, dan yang kedua adalah sel syaraf untuk menghasilkan jeritan untuk membuat gema. Kedua sel syaraf inilah yang membantu mereka untuk mendeteksi ruang, tempat dan mangsa yang siap mereka terkam.

Setelah dirasa cukup kami mengamati, Kami memcoba mematikan semua senter yang kami bawa dan sambil membayang-bayangkan hidup di tempat yang tak disinari setitik cahaya ini. Haha, cukup menakutkan juga saya rasakan. Lalu bagaimana rasanya dengan para kelelawar yang sehari-harinya memang tinggal di tempat seperti itu, hampir tak dapat dibayangkan. Dalam hitungan ke-10 kami menyalakan senter satu demi satu lalu menelusuri jalan gua kembali untuk keluar.

esthi

Foto : Wahyu Wening, Fery

Bondan Winarno

Posted in Literatur with tags , , , , on December 6, 2007 by esthi
bondan3.jpg
Mengapa Bondan Winarno melalui acara Wisata Kulinernya jadi begitu dicintai pemirsa? Kalau dilihat dari konsepnya, mungkin tidak terlalu berbeda dengan acara kuliner lainnya. Lalu, apa yang membuat pemirsa televisi terlihat begitu menyukainya?

Bagi Pak Bondan masalah makanan enak bukan hal yang baru. Sebelumnya ia telah menjadi redaktur Jalan Sutra di Kompas. Sebuah artikel yang mengupas baraneka macam makanan sepanjang jalur perdangan Jalan Sutra. Beliau menjelaskan berbagai masakan dengan berbagai latar belakang. Tidak hanya masalah bumbu, tetapi juga teknik, asal geografis, sejarah, nama, dan ciri khas tiap-tiap masakan tersebut. Beliau sering menjabarkan arti nama dalam sebuah masakan. Misalnya masakan yang bernama “The King Bids Farewell to His Concubine” yang artinya raja mengucapkan selamat tinggal kepada sang selir. Beliau menerangkan, bahwa nama tersebut konon diciptakan pada akhir masa dinasti Qing dengan cara yang sangat sulit. Kelezatan masakan tersebut membuat Raja rela melepas selirnya untuk memperoleh hidangan tersebut. Sebuah penjelasan yang menarik. Karena kita dituntut untuk berimajinasi, membayangkan sebuah imperium Qing beberapa generasi masa lampau menggunakan kostum dizamannya tengah mengusir selir untuk medapatkan sebuah hidangan yang begitu istimewa.

Hal yang tak kalah menarik, yaitu beliau kerap menghubungkan masakan satu dengan lainnya. Baik dari teknik, bahan atau bumbu. Dua masakan berbeda, dibuat di dua daerah yang terpisah jauh tetapi memiliki kesamaan-kesamaan tertentu. Secara tidak sadar seperti hendak memberitahukan bahwa kita memiliki nenek moyang yang sama dan berada dalam satu rumpun geografis.

Hal yang berbeda dengan Wisata Kuliner, artikel Jalan Sutra tidak diangkat lewat layar kaca. Mungkin itulah yang menyebabkan Pak Bondan terbiasa mendeskripsikan berbagai masakan secara detil. Yang tujuan adalah bagaimana agar pembaca dapat ikut membayangkan dan merasakan nikmatnya makanan yang ia tulis. Misalkan masakan udang Rebus Pu Tien. Beliau menerangkan bahwa udangnya utuh, dan tampak merah segar terendam dalam kuah bening. Disajikan dalam tabung bambu dengan kuah panas. Nah lo, sudah bisa dipastikan mereka yang belum makan siang buru-buru mencari teman untuk segera melakukan aksi cari makan enak.

Saat menjadi presenter kuliner menjadi lebih mudah baginya untuk menerangkan berbagai hidangan yang ada. Karena pemirsa dapat langsung melihat bagaimana rupa dan bentuk penyajian hidangan tersebut. Tentu yang menarik tidak hanya karena hidangannya saja, tetapi bagaimana kemampuan si presenter menjelaskan berbagai masakan dengan segala pengetahuannya. Dengan gaya yang simpatik beliau berkelana ke berbagai daerah di nusantara. Dari resto berkelas sampai warung makan sederhana. Karena masalah rasa tentu tidak bisa diidentikan dengan tempat bergengsi atau bukan. Lihat saja ia memperkenalkan Laksa H Idin yang berada di daerah Bogor. Warung Laksa sederhana menghidangkan masakan tradisional dengan harga yang begitu murah 3000 rupiah, sudah termasuk satu telor rebus utuh, ya utuh tidak setengah. Beliau tak lupa mengakrabkan diri dengan memanggil “Mang Idin” sang pemilik warung makan. Sang kameraman merekam proses penyajian hingga terhidang di meja Pak Bondan. Beliau kemudian menerangkan hidangan dan mencicipinya, “…mak nyuuss…” begitulah komentarnya kalau ia hendak menjelaskan bahwa rasa masakan itu begitu sempurna.

Mungkin beliau adalah penikmat pencarian makan enak sejati. Dari kota besar hingga daerah terpencil, dari harga ratusan ribu hingga dua-tiga ribu rupiah saja. Dari sudut pelosok Banten, hingga daratan Tiongkok. Ia tak hanya memberi gambaran berbagai hidangan yang ada, tetapi juga menghubungkannya dengan berbagai pengetahuan lainnya, tanpa rasa gengsi tentunya.

Esthi

Ilus : Esthi